Cikal Bakal Pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) ternyata berada di Tangerang

Para Siswa sedang latihan di Seinen Dojo Tangerang

SEINEN DOJO TANGERANG SEBAGAI PUSAT PELATIHAN MILITER JEPANG TERHADAP PEMUDA INDONESIA TAHUN 1943

Reni Nur Silawati

2288180005

Mahasiswa Pendidikan Sejarah

Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

ABSTRAK

Penulisan ini membahas seputar sejarah militer pada masa pendudukan Jepang. Salah satunya yang dibentuk oleh Jepang adalah Seinen Dojo (Pusat Latihan Pemuda) yang terletak di Tangerang. Pembahasan dalam penulisan ini mengambil topik tentang pembentukan serta jalannya latihan pemuda dalam wadah Seinen Dojo tersebut. Salah satu tujuan diselenggarakan latihan di Seinen Dojo, tidak terlepas dari kepentingan Jepang akan sumber daya manusia. Pemerintahan Militer Jepang pada saat itu sedang mengalami masalah berupa  kekurangan tenaga kerja. Permasalahan yang lebih penting lagi adalah personil militer yang terbatas. Hal ini bisa terjadi dikarenakan  lebih banyaknya personil militer yang ada ditempatkan  pos-pos pertempuran di garis depan. Sehingga pertahanan untuk daerah yang telah dikuasai khususnya pulau Jawa amat rapuh karena kekurangan personil militer tadi. Oleh sebab itu upaya untuk menutupi kelemahan ini maka pihak Pemerintahan Militer Jepang mempunyai keinginan untuk membentuk barisan militer pribumi.

Kata Kunci : Sejarah Militer, Pendudukan Jepang, Seinen Dojo, dan Kota Tangerang.

PENDAHULUAN

Pada masa pendudukan Jepang ada sebuah pusat pelatihan militer atau biasa disebut juga Seinen Dojo yang berada di Kota Tangerang. Didalam pusat pelatihan ini selain dipelajari ilmu kemiliteran para siswa juga diberikan latihan intelejen. Dalam upaya mendapatkan data penulisan tentang sejarah terbentuknya Tangerang Seinen Dojo dilakukan dengan dua cara. Cara yang pertama, yaitu melalui studi kepustakaan dan yang kedua menggunakan data dari hasil wawancara atau sejarah lisan. Melalui kedua cara ini diharapkan dapat dituangkan latar belakang sejarah munculnya ide terbentuknya Seinen Dojo Tangerang.  

Tentara PETA (Pembela Tanah Air) adalah bentukan Jepang. Ini cara Jepang mengambil hati bangsa Indonesia dengan mendidik mereka menjadi tentara. Sebenarnya cikal bakal PETA adalah di Tangerang. Pada Januari 1943  Jepang membuat pendidikan militer untuk anak-anak Indonesia yang disebut Pusat Latihan Pemuda atau Seinen Dojo di Kota Tangerang. Di sinilah sejumlah anak muda Indonesia seperti Supriyadi (yang kemudian memimpin pemberontakan di Blitar), Daan Moogot, Kemal Idris, Amir Machmud dididik.

Di dalam Seinen Dojo ini, para pemuda Indonesia diajarkan kebiasaan dan etos militer Jepang.  Latihan militer berjalan sangat ketat dibutuhkan disiplin tinggi, dan ketahanan mental dan juga  fisik. Sehingga akhirnya dapat diketahui bahwa, pembentukan pusat latihan pemuda Tangerang atau Seinen Dojo adalah  salah satu upaya dari Pemerintahan Militer Jepang untuk membentuk barisan militer pribumi yang lebih terkenal dengan nama PETA (Pembela Tanah Air).

PEMBAHASAN

Pada saat pemerintahan militer Jepang sedang mengalami masalah berupa  kekurangan tenaga kerja. Permasalahan yang lebih penting lagi adalah personil militer yang terbatas. Oleh karena itulah  Jepang memerlukan bantuan rakyat Indonesia  untuk menghadapi tentara Sekutu. Pemerintah Jepang mulai berpikir tentang  pengerahan pemuda-pemuda Indonesia guna membantu usaha peperangannya. Jepang mulai beralih ke strategi defensif (bertahan) di mana Indonesia menjadi front depan (Nugroho: 1993).

Ketika Hindia Belanda jatuh kepada Jepang, Maruzaki melapor kepada Jenderal Imamura selaku penguasa militer Jepang yang berada dimarkasnya. Markas tersebut  sementara berada di Bandung, sebelum pindah ke Jakarta. Di situ itu bertemu dengan Mayor Kuriya yang baru saja diangkat menjadi Kepala Intelijen Tentara Keenam Belas. Kuriya menerima kembali Maruzak dengan senang hati, bahkan menugaskannya menjadi pemimpin kesatuan khusus intel, Takubetsu Han, atau yang biasa disebut dengan Beppan. Orang-orang Indonesia menyebut anggota kesatuan khusus ini sebagai Bepang atau Beppan, dengan sebutan kagum, segan, dan juga takut.

Selanjutnya, Letnan dari Jepang yaitu Letnan Yanagawa datang ke Jakarta membawa pemikiran yang sebelumnya sudah disimpulkan oleh Maruzaki sejak di Surabaya, bahwa pemuda Indonesia juga punya kemampuan untuk dipergunakan di bidang intel militer.  Ia datang pada saat yang tepat, yaitu ketika Beppan mewujudkan konsep itu dengan membuka pusat latihan pemuda, yang terkenal dengan nama Seinen Dojo. Sejak awal 1942 dia sudah di berada Bandung.

Dari awal, Yanagawa sudah  menyukai untuk mengajar orang Indonesia. “(Letnan Yanagawa) mengumpulkan enam orang pemuda Indonesia dan melatih mereka dan melatih mereka judo, sumo, kendo dan di waktu malam mengajar mereka bahasa Jepang. Dia memakai mereka untuk mengumpulkan data-data intelijen,” catat Joyce Lebra.

Pada tahun 1942 Jepang mengumumkan tentang pendaftaran pelatihan militer bagi Pemuda Indonesia namun bukan sebagai Tentara. Jepang membentuk Seinen Kunrensho yang berarti Sekolah Pelatihan Pemuda di Bekas Rumah sakit di Daerah Yogyakarta bagian utara, dekat simpang jalan raya yang menuju Magelang yang disebut Asrama Pingit.

Tahun 1943 Pelatihan Militer dipindah ke Tangerang untuk Pelatihan Lanjutan yang disebut Seinen Dojo atau Pusat Latihan Pemuda yang kemudian berkembang menjadi Sukarelawan Pembela Tanah Air alias PETA. 

Adanya keputusan dalam sidang parlemen ke-82  di Tokyo, Tojo selaku Perdana Menteri kala itu  mengemukakan perlu dibentuk barisan semi militer dan militer di Indonesia. Kemudian pada bulan Januari 1943 di bentuklah sebuah pusat latihan militer untuk pemuda-pemuda Indonesia yang dikenal dengan sebutan ”Sainen Dojo” di Tanggerang. Seinen Dojo Tangerang ini dipimpin oleh pelatih Jepang dari Jepang yaitu Letnan Yanagawa, dibantu oleh Maruzaki .Nakajima. Di dalam Seinen Dojo ini para pemuda diberi latihan militer yang sangat keras. Di tempat ini pula dibentuk karakter pemuda semangat dan keberanian berkorban tentara Jepang yaitu ”Seisin” . Karakter-karakter ”Seisin” seperti ”Tai atari”, ”Jibaku”, ”Harakiri” inilah yang kelak sangat berguna dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di Sainen Dojo ini juga kelak lahir pahlawan-pahlawan kemerdekaan seperti Mayor Daan Mogot, Letnan Jenderal A. Kemal Idris, Letnan Jenderal A. Kosasih, dan sebagainya.

Pada awal tahun 1943, murid Yanagawa tak hanya enam orang saja, tapi 50 pemuda Indonesia pilihan yang diambil dari tempat-tempat pelatihan pemuda. Mereka ditempatkan di Seinen Dojo Tangerang.

Disini pelatihan berjalan intensif mempelajari seputar pengetahuan secara luas baik sejarah maupun lainnya. Di dalam asrama tersebut dibagi kedalam dua regu yang ditempatkan di dua barak, regu itu disebut Daichi Han dan Daini Han. Di regu Daichi Han antara lain terdapat nama-nama Daan Mogot dan Soeprapto Soekawati, dan di regu Daini Han antara lain terdapat nama-nama Kemal Idris, Yono Siswoyo, Aboe Djamal, Soeprijadi, Soemartono, Amir Sjamsoedin, Zulkifli Lubis, Soekotjo dan Soedjono

Setelah enam bulan mengikuti pelatihan di Seinen Dojo, 50 orang peserta pertama dinyatakan lulus pada bulan Juni. Letnan Yanagawa turun tangan langsung dalam pelatihan-pelatihan itu.  Hasilnya ternyata melampaui standar yang diharapkan.  Letnan Yanagawa dipuji. Kemudian dibulan Juni itu pula diterima untuk angkatan kedua. Kali ini jumlahnya lebih banyak, 60 orang.  Salah seorang di antaranya adalah Daan Mogot.

Lalu apa yang diajarkan di Seinen Dojo?   

  1. Sejarah dunia, sejarah Hindia Belanda, situasi aktual dunia, sejarah perang, taktik, komunikasi, yang digolongkan sebagai kuliah umum;
  2. Mata pelajaran khusus seperti spionase, muslihat, kontra-spinonase, propaganda, dll;
  3. Latihan praktis seperti gerak badan, senam, gulat, sumo, berenang, anggar, dll;
  4. Pelajaran teknik seperti pengintaian,  penyamaran, menembak, perhubungan, berkamuflase, dll;  
  5. Berwisata, mengunjungi pabrik, perkebunan, dll;
  6. Diajarkan pula lagu-lagu dan menyanyi lagu perang. Kegiatan yang keenam ini termasuk dalam ekstrakurikuler yang lumayan menyenangkan.

Namun terlepas dari  materi pelatihan itu, yang pertama kali diajarkan adalah pelajaran Bahasa Jepang. Semua pelajaran kelak disampaikan dalam Bahasa Jepang. “Kalau diprosentasi, pendidikan militer dan latihannya sekitar 70% sementara 30% pengetahuan lainnya,” ujar Kemal Idris. (dalam Kompasiana: Kisah mereka yang dilupakan, Pusat Latihan Pemuda – Seinen Dojo – Pasukan Perang Fikir Republik Indonesia, 2016.)

Di Seinen Dojo, para pemuda Indonesia diajarkan kebiasan dan etos militer Jepang.  Latihan berjalan sangat ketat dan berat, menuntut disiplin tinggi, dan ketahanan mental dan juga fisik. Angkatan kedua Seinen Dojo telah menyelesaikan latihannya pada bulan Oktober 1943.  Dari dua angkatan menghasilakan 100 orang terlatih. Maka dari sinilah cikal-bakal sejarah PETA dimulai.  Berawal dari 100orang terlatih  inilah yang menjadi sebagian instruktur dan selebihnya menjadi korps perwira PETA yang pertama.

Akhir dari Pusat Latihan Pemuda (Seinen Dojo) Tangerang yaitu karena pada perang Asia-Pasifik balatentara Jepang kewalahan, maju jadi abu, mundur jadi bubur, dihabisi oleh pasukan Sekutu pimpinan  Jendral Mc Arthur dari AS. Padahal semua lulusan Seinen Dojo Tangerang sebelumnya direncanakan akan disusupkan ke Australia. Maka terjadilah selisih pendapat diantara benak para pimpinan militer Jepang di Jawa. Terjadi dua pendapat. Satu pihak berpendapat jika Seinen Dojo harus dibubarkan sebab tak ada gunanya lagi bagi straregi besar militer Jepang. Namun, pihak lain berpendapat bahwa jangan dibubarkan. Alasannya, dikarenakan mereka (lulusan Seinen Dojo)  sudah tahu banyak mengenai teori “Perang Rahasia Jepang”. Maka jika dibubarkan, para siswa akan sangat berbahaya bagi kepentingan Jepang. Bahkan mungkin akan dirangkul pihak Sekutu. Perdebatan belum selesai dan masih dalam situasi politik yang kritis dan tak ada kepastian, pergerakan kemerdekaan Indonesia yang diwakili oleh Gatot Mangkoepraja menggebrak dan mendesak pimpinan Angkatan Perang Jepang di Indonesia, yang inti usulnya yaitu: Pihak tentara Jepang haruslah segera melatih para pemuda Indonesia di bidang kemiliteran secara besar-besaran.

Usul Gatot tersebut ternyata mendapat tanggapan positif dari Panglima Pasukan Kekaisaran Jepang XVI di Jawa, Letjen Harada. Itu terjadi pada awal tahun 1943. Kemudian Letjen Harada setuju dengan usul Gatot karena tentara sukarela pribumi tersebut nantinya akan digunakan sebagai tameng terdepan tentara Jepang, saat nanti pasukan sekutu masuk Jawa.

Dengan kekalahan tentara Jepang terhadap sekutu, Pusat Latihan Pemuda (Seinen Dojo) di Tangerang tidak ada manfaatnya lagi untuk diteruskan. Tetapi Kepala Pusat Latihan Pemuda Tangerang Kapten Maruzaki tetap keberatan  jika Seinen Dojo Tangerang dibubarkan. Karena alasannya tetap sama yaitu berbahaya bagi kepentingan Jepang. Setelah masalah ini dibahas lebih dalam, apalagi ada usulan dari Gatot Mangkoepraja, bahwa pihak Jepang diminta mendidik pemuda-pemuda pribumi untuk dijadikan pasukan sukarela Pembela Tanah Air (Peta), maka pada akhirnya Pendidikan di Asrama Tangerang tidak dibubarkan, akan tetapi para siswa yang sudah menguasai ilmu kemiliteran akan dimanfaatkan sebagai asisten instrukur dalam rangka pembentukan Peta.

Di pihak Indonesia, Peta akan dibangun terus untuk dijadikan cikal-bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang konvensional dan professional. Lalu  para siswa di Pusat Pelatihan Pemuda atau Seinen Dojo Tangerang dibagi  kedalam dua grup. Terdiri dari 25 orang satu grupnya. Satu grup dikirim ke Magelang, dan satu grup yang lainnya lagi dikirim ke Cimahi.

Tugas para siswa Seinen Dojo Tangerang di Magelang dan Cimahi adalah mendidik para calon Budancho, atau setingkat Komandan Peleton atau Komandan Regu. Grup Magelang terdapat nama Zoelkifli Loebis dan Amir Sjamsoedin sebagai asisten instruktur..

Para siswa Seinen Dojo yang menjadi asisten instruktur, disebut Seosei. Asisten instruktur adalah pemuda yang harus sudah menguasai ilmu kemiliteran dan bahasa Jepang, walaupun hanya sedekar tahu atau “pas-pasan”. Dan posisi tersebut sudah bisa diisi oleh para siswa Seinen Dojo Tangerang. Kemudian setelah 3 bulan menjadi asisten instruktur, para siswa Seinen Dojo Tangerang, baik yang bertugas di Magelang maupun yang bertugas di Cimahi, ditarik kembali ke Asrama Tangerang. Program pendidikan lain, di tempat lain, untuk keperluan lain, sedang dipersiapkan oleh pimpinan militer Jepang.

Seinen Dojo Tangerang ini diperkirakan terletak di Jalan Daan Mogot, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang atau tepat di lokasi Lembaga Permasyarakatan Anak Pria Tangerang sekarang ini. Berdasarkan  kutipan dari laman situs budaya.id yaitu Lembaga Permasyarakatan Anak Pria Tangerang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1928 kemudian  diserahkan pada Pemerintahan Jepang di tahun1942 dan beralih fungsi menjadi rumah tahanan perang bagi anak-anak dan wanita Belanda yang akan dipulangkan ke negara Belanda. Ditahun yang sama pula  Lembaga Permasyarakatan Anak Pria Tangerang pernah digunakan sebagai Sekolah Akademik Militer yang terkenal salah satu pahlawannya yaitu Daan Mogot.

KESIMPULAN

Tangerang sebagai sebuah kota yang berada dipinggir Ibukota Jakarta telah ada  sejak masa pendudukan Jepang ternyata mempunyai jejak sejarah militer yang sangat berpengaruh pada kemiliteran Indonesia hingga saat ini. Dapat diketahui bahwa pada Januari 1943  Jepang membuat pendidikan militer untuk anak-anak Indonesia yang disebut Pusat Latihan Pemuda atau Seinen Dojo di Kota Tangerang.

Di sinilah sejumlah anak muda Indonesia seperti Supriyadi (yang kemudian memimpin pemberontakan di Blitar), Daan Mogot, Kemal Idris, Amir Machmud dididik. Seinen Dojo di Tangerang menjadi cikal bakal terbentuknya PETA (Pembela Tanah Air). Tentara PETA berkembang menjadi bagian dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu Tentara Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya menjadi  Tentara Nasional Indonesia (TNI).

DAFTAR PUSTAKA

Marwati, Djoenoed dan Nugroho Notosusanto.1993. Sejarah Nasional Indonesia jilid IV. Jakarta: Balai Pustaka.

Joyce C. Lebra. 1988. Tentara Gemblengan Jepang. Jakarta: CV. Muliasari.

Sumber Internet :

https://catatanbaskoro.wordpress.com/2016/12/22/berkunjung-ke-museum-peta-1-sejarah-peta-dan-alumninya

http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20157074.pdf

https://narakata.com/2017/10/15/nakago-gakko-maruzaki-yoshio-yanagawa-motoshige/amp/

https://pemudabergerakblog.wordpress.com/2016/06/15/kisah-mereka-yang-dilupakan-pusat-latihan-pemuda-seinen-dojo-pasukan-perang-fikir-republik-indonesia-2/

https://tirto.id/yanagawa-munenari-guru-para-jenderal-orde-baru-c5Nh

https://situsbudaya.id/amp/lembaga-permasyarakatan-anak-pria-tangerng/

http://www.eduwebku.com/2015/01/organisasi-semi-militer-yang-dibentuk.html?m=1

https://www.kompasiana.com/eyangwid/5500b528a333117f72511bf9/kisah-perjuangan-7-lahirnya-badan-intelijen-indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website at WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: